Rabu, 08 Mei 2013

Oppaaa...! Nan Jeongmal Saranghaeyo (2/2) End




Author : Azka
Title : "Oppaaa...! Nan Jeongmal Saranghaeyo"
Genre : Romance
Length : Twoshoot
Cast :
- Park Ji Yeon
- Jung Jin Woon

NB : Semuanya berdasarkan pikiran Jiyeon


Flashback

           Sekarang kami duduk disebuah kursi yang cukup dekat dengan pengamen tersebut. Lagu yang dinyanyikan pengamen itu adalah lagu-lagu romantis. Sepertinya pengamen itu sengaja menyanyikan lagu-lagu itu. Sambil memetik sinar gitarnya, suaranya yang bisa dibilang bagus membuat aku dan Jinwoon menikmati tiap tetes air hujan yang turun. Seketika itu juga, Jinwoon menyandarkan keplanya kebahuku. GOSH ! Aku benar-benar jatuh cinta pada Jinwoon. Saat ini, jantungku berdegub kencang. Kuharap dia tidak merasakan jantungku yang berdegub-degub ini.

          Sekarang hujannya tidak terlalu deras lagi. Tapi aku masih diam disini bersama Jinwoon yang masih bersandar dibahuku. Sudah satu jam kami duduk disini tanpa ada pembicaraan. Yang kami lakukan hanyalah mendengarkan nyanyian pengamen.

          Jinwoon lalu mengangkat kepalanya. Seketika aku merasakan sesuatu yang menempel dipipi sebelah kananku. Apa ini ? Ternyata Jinwoon sedang mencium pipiku. MWO ? Jinwoon mencium pipiku ? Menciumku ?

          Setelah dia menciumku dipipi, dia berbisik padaku …

“Jiyeon-a, saranghae”



Flashback end

          Deggg !!! Jantungku sekarang hampir copot ! Dia … menyukaiku ! Park Ji Yeon ! Seorang Jung Jin Woon menyukaimu ! Ternyata cintamu dibalas olehnya.

            Jinwoon sekarang sedang mengantarkanku pulang kerumah. Kini, kami jadi sangat canggung. Aku tak bisa berpikir sekarang. Apa yang harus kukatakan pada Jinwoon sekarang.

“Aku pulang” Kata Jinwoon pamit dan langsung pergi dariku.

            Keesokan harinya, aku merasa sakit. Aku merasa kurang enak badan. Tadinya aku disuruh eomma agar tidak sekolah, tapi aku bersikeras untuk tetap sekolah. Sesampainya aku dikelasku, teman-temanku langsung mengerebungiku.

“Jiyeon-a, kau tampak pucat. Gwenchana ?” Tanya salah satu chinguku.

“Aniyo. Gwenchana” Jawabku dengan cukup meyakinkan temanku kalau aku baik-baik saja. Haha, sepertinya aktingku untuk terlihat baik lumayan juga ^.^

            Hari ini sama seperti hari sebelum datangnya Jinwoon. Sepi sekali. Aku berjalan dikoridor sekolah dan tanpa sengaja aku melihat mading yang ada sebuah pengumuman baru yang belum kuketahui. Kudekati mading tersebut dan kubaca dengan seksama. Ini adalah audisi. Sebuah audisi pencarian bakat akting. Mwo ? Audisi pencarian bakat akting ? Kenapa aku bersikap biasa saja ? Ada apa denganku ? Seharusnya sekarang aku sedang tersenyum lebar. Tapi kali ini, aku merasa itu biasa saja. Tapi, setelah kubaca apa yang didapat oleh pemenang adalah…. Oh My God ! Pemenangnya mendapat beasiswa ke Amerika untuk belajar. Hadiah itu langsung membuatku tersenyum lebar. Ini adalah hadiah yang pantas untuk kudapatkan.

            Kuberlari kekelas Jinwoon untuk minta pendapatnya. Kulihat dia sedang melamun dikursinya sambil memegang sebuah gitar. Langsung kuhampiri dia.

“Oppa, bagaimana menurutmu jika aku pergi belajar ke Amerika ?” Tanyaku padanya.

“Mwo ?” Tanyanya bingung. “Andwae ! Kau tidak boleh pergi kemana pun” Lanjutnya sambil menggerakkan jari telunjuknya.

“Oppa …” Renggekku manja sambil memasang aegyoku.

“Aisshh… Jinja  ! Aku bisa gila Jiyeon-a” Katanya sambil memegangi kepalanya.

“Oppa, mari kita bolos sekolah” Ajakku semangat.

“Mwo ? Jinja ? Kau benar-benar ingin bolos sekolah ?” Tanyan Jinwoon tak percaya.

“Ehm !” Jawabku sambil mengangguk.

“Kajja” Katanya sambil menarik tanganku.

“Jakamnan oppa !” Ucapku ketika kami sampai diluar kelas Jinwoon.

“Mworago ?” Tanya Jinwoon.

“Lebih baik aku izin” Jawabku dan berhasil menaikkan satu alisnya. “Tadi pagi aku sempat tidak enak badan. Tapi sekarang sudah tidak papa. Nah, aku mau gunakan alas an tidak enak badan itu untuk keluar. Gimana oppa ?” Lanjutku.

“Ah, ide yang brilian Jiyeon-a. Kau ambil tas dulu dan aku juga mengambil tas. Nanti, aku taruh tasku didalam tasmu dan akan kubawakan tasmu. Jadi kita tidak perlu kembali lagi kesekolah” Kata Jinwoon.

“Ok ! Aku ambil tasku dulu ya oppa”

“Ne”
            Aku langsung berlari kekelas dan mengambil tasku. Aku harus mencoba menjadi orang sakit. Maka, kubuat wajahku menjadi pucat dan semua tubuhku menjadi lemas. Lima menit kemudian, aku kembali kekelas oppa dan menemui oppa sudah siap. Rencana kami berjalan dengan mulus. Tidak ada pertanyaan atau pun kecurigaan dari satpam.

            Pertama, kami pergi kesebuah mall dan pergi kesebuah game zone. Dari sebuah game zone, kami berhasil mendapatkan gantungan kunci couple, pensil couple, buku catatan couple, tas ransel couple, dan sebuah boneka teddy bear berwarna putih.

            Setelah keluar dari game zone, kami pergi kesebuah café makanan ringan. Jinwoon yang pergi untuk memesan dan dia memesan delapan muffin cokelat dan dua milkshake cokelat. Kuhabiskan dua buah muffin cokelat itu dan sudah cukup kenyang. Sedangkan Jinwoon sudah memakan empat buah muffin.

“Oppa, kau makan saja yang terakhir. Aku sudah kenyang” Kataku sambil menyondorkan piring denga satu muffin lagi.

“Aniyo. Jatahku sudah habis” Bantah Jinwoon.

“Oppa … Aku sudah tak tahan” Kataku manja.

“Ara, ara. Biar aku yang habiskan untukmu” Katanya dengan nada menyerah. Dia mengambil muffin jatahku dan menghabiskan semuanya.

            Setelah keluar dari café, kami keluar dari mall dan pergi ketaman yang waktu itu Jinwoon pernah menciumku. Sekarang, pengamen itu tidak lagi. Aku duduk ditempat yang waktu itu Jinwoon menyandarkan kepalanya kebahuku.

“Jiyeon-a” Kata Jinwoon dan membuatku membelokkan kepalaku kearahnya. “Saranghae” Lanjutnya dan lalu menyandarkan kepalanya kebahuku.

“Nado, oppa” Jawabku.

            Setelah kejadian itu, ketika Jinwoon mengatakan “Saranghae” untuk yang kedua kalinya kami resmi berstatus berpacaran.  Sudah tiga minggu ini kami selalu jalan bersama. Enam hari lagi, audisi pencarian bakat akting. Kata Jinwoon aktingku sudah bagus. Malah sangat bagus. Menurut Jinwoon, yang kurang hanya satu. Aku tidak bisa berakting sebagai orang yang sakit hati. Sama sekali. Bagaiman bisa ? Aku kan tidak pernah sakit hati.

            Besok adalah harinya. Hari dimana aku akan ikut audisi pencarian bakat akting. Sebelumnya aku mendengar bahwa nenek sihir juga ikut audisi itu. Tadinya aku ingin mengundurkan diri merasa tidak mampu mengalahkannya. Tapi, dia kan nenek sihir. Langsung kucabut kalimat ‘mengundurkan diri’ dan ‘tidak mampu’. Siapa bilang aku tidak mampu ? Aku sangat mampu bersaing dengannya. Mengundurkan diri ? Kalimat itu tidak ada dalam kamusku.

            Sore ini Jinwoon datang kerumahku. Aku berdandan sebagus mungkin untuk menampilkan pesonaku pada Jinwoon. Kulihat Jinwoon sudah menunggu diruang tamu. Apakah dia akan mengajakku dinner ?

“Oppa !” Teriakku padanya. Seketika Jinwoon langsung menoleh padaku dan langsung berdiri. Aku pun berlari dan langsung memeluknya.

“Mworago, oppa ?” Tanyaku bingung pada Jinwoon.

“Jiyeon-a . Ayo kita selesaikan …” Katanya dengan potongan “Hubungan kita” Lanjutnya.

“M-Mwo ? Maksud oppa apa sih ? Oppa mau menguji aktingku lagi ?” Tanyaku berusaha tetap terkendali.

“Ani. Aku tidak sedang menguji aktingmu yang buruk itu” Jawabnya datar tak berekspresi.

“Oppa” Ucapku pelan.

“Kurasa, kita harus menghentikan perjalan kita” Katanya yang masih tak menampilkan sedikit pun ekspresi.

“Apa maksudmu menghentikan perjalanan kita ? Oppa, apa maksudmu ?” Tanyaku bingung,

“Kau bodoh sekali ! Yang kumaksud itu putus. Kita putus” Bentaknya.

“M-M-Mwo ? Oppa … Wae ? Wae ?” Isakku. Aku tak tahan lagi. Tiba-tiba air mataku sudah meledak dan turun kebawah.

“Kenapa kau tidak mengerti ? Jika aku ingin putus, maka artinya aku tidak lagi MENCINTAIMU ! Ara ? Aku sudah mencintai orang lain !” Bentaknya lagi.

“Nugu ?” Tanyaku dengan air mata yang terus berjatuhan.

“Park Hyo Min. Aku sudah menyukainya sejak lama. Tapi gara-gara kau, aku telah melupakannya” Jawabnya.

“Tapi oppa … Nan jeongmal saranghaeyo !!!” Bentakku.

“Aku sudah tidak mencintaimu lagi ! Ara ?!” Balasnya  dengan bentakan dan langsung keluar dari rumahku.
“Oppaaa …! Nan jeongmal saranghaeyo” Isakku. Teganya kau Jinwoon. Tega sekali kau. Kau sudah membuatku jatuh cinta dan membuangku begitu saja. Kau tau ? kau adalah my first love. Tega sekali kau. Kau bodoh Jiyeon ! Bisa-bisanya kau membiarkan seorang brengsek membuatmu menyukainya.

            Keesokan paginya aku merasa sangat sakit. Aku merasa tidak bisa ikut audisi hari ini. Tapi, dengan kejadian kemarin aku menjadi lebih kuat. Aku memakai baju baruku yang waktu itu sengaja Jinwoon belikan untukku untuk audisi. Tapi mengingat kejadin kemarin, aku mengurungkan niatku untuk memakai baju itu.

            Aku memakai baju yang sudah dibelikan eomma. Baju sweater berwarna merah bercorak kotak-kotak putih. Kutambah memakai celana pendek berwarna hitam dan memakai sebuah boat berwarna coklat yang memiliki sedikit heels. Tak lupa aku memakai aksesorisku.

            Selesai berdandan, aku langsung memasuki mobilku yang berwarna putih tanpa atap dan aku langsung pergi ketempat audisi. Sesampainya digedung tempat audisi, kulihat banyak orang yang mengikuti audisi. Kulihat semua sainganku. Rata-rata dari mereka membawa kekasihnya untuk mendukungnya. Jika bukan kekasihnya, chingunya. Bahkan nenek sihir embawa namjachingunya. Kulihat mereka cukup mesra berada ditempat umum. Mereka tampak bercanda dan tertawa berbarengan. Aku merasa sangat iri padanya. Sepertinya, hanya aku yang pergi kesini seorang diri.

“Peserta nomor enam belas yang bernama Park Ji Yeon dipersilahkan untuk masuk keruangan yang telah diisi oleh para juri”

            Omo ! Aku nomor enam belas dan namaku adalah Park Ji Yeon. Dengan cepar aku langsung masuk kedalam ruangan para juri dan mulai melakukan peran yang diperintah oleh dewan juri.

            Empat hari setelah audisi tersebut, pengumuman ditempel. Banyak orang yang sedang berada dimading. Jadi, kuputuskan untuk berbelanja terlebih dahulu. Saat aku ingin melihat mading, terlambat Teettt … Teettt … Bell masuk sudah berbunyi.

            Saat mengikuti pelajan sejarah ini sangat membosankan bagiku. Aku memutuskan untuk meminta izin ke toilet. Sengaja aku melewati mading dan kulihat pengumuman pemenang. OMO ! Namanya adalah Park Ji Yeon ! Park Ji Yeon ! Park Ji Yeon adalah namaku !

“WAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!” Teriakku dengan keras.

Kulihat nama-nama juara dua sampai lima. Juara dua diraih oleh Jessica Jung. Dia memang hebat. Dia adalah sunbaeku dan sekarang dia sudah kuliah. Juara ketiga diraih oleh Lee Ji Eun dari kelas B11. Dia adalah sahabat baikku. Juara keempat diraih oleh Bae Sue Ji. Dia adalah murid dari kelas A10. Dan juara kelima diraih oleh… Astaga ?! Benarkah ini ? Juara kelima diraih oleh nenek sihir alias Ham Eun Jung. Hahaha ! Akhirnya aku bisa mengalahkan dia. Seorang batu bisa mengalahkan seeoar angsa putih. Tentu saja bisa ! Jika kita melemparkan batu kesalah satu sayap angsa, otomatis sayapnya akan patah dan dia akan jatuh dan turun kebumi.

Minggu ini adalah keberangkatanku ke Amerika. Seluruh songsaengnim dan chinguku dari kelas A11 pergi mengantarkanku sampai ke bandara. Goodbye Seoul … See You Next Mounth !

Sudah satu bulan aku tinggal di Amerika. Rasanya sangat sulit berpisah dengan teman-teman baruku disini. Tapi mau gimana lagi ? Studyku di Amerika sudah selesai. Saatnya aku pulang ke Seoul.

Aku sampai di Seoul pada pukul tujuh pagi. Tidak ada yang menjemputku. Aku memang sengaja untuk tidak memberitahu orang rumah dan chinguku akan kepulanganku. Aku akan pulang menaiki taxi. Sampai dirumah, aku langsung disambut eomma, ahjumma, dan ahjussi. Mereka semua terkejut akan kepulanganku.

Aku masuk kekamarku. Kulihat ada foto-foto dan tulisan-tulisan diatas meja riasku. Ini adalah foto-foto lamaku bersama Jinwoon, lelaki brengsek yang sudah membuatku sakit hati. Langsung kurobek semua foto tersebut dan menghamburkannya diatas lantai.

Keesokan paginya, aku sengaja pergi pada waktu matahari belum terbit untuk pergi ke super market untuk membeli bahan makanan yang akan kubuatkan untuk seluruh orang rumah. Ketika aku sedang mendorong kereta belanjaan, tak sengaja aku malah menabrak seseorang.

“Ya ! Apa kau punya mata ?!” Bentak orang yang kutabrak. Wait ! Rasanya aku familiar dengan suara itu.

“Mian mian. Aku gak liat” Jawabku sambil membungkukkan badan dan langsung pergi dari orang tersebut.

“Jakamnan !” Teriak orang tersebut dan menarik tanganku. “Jiyeon ?” Tanya orang tersebut. Aku langsung menengok kearah orang yang kutabrak tadi. OMO ! Itu adalah orang brengsek yag telah menyakitiku.

“Kapan kau pulang ?” Tanyanya lagi. Akutak mempedulikannya dan langsung pergi meninggalkannya.

            Setelah pulang kerumah, aku merasa selera untuk memasakkan maskan untuk semua orang hilang. Itu semua karena JUNG JIN WOON ! Aku meletakkan kantong plastik belanjaanku diatas meja makan dan pergi kesuatu tempat yang sangat kurindukan.

            Tempat ini. Kursi ini. Ketika aku masih bersama dengannya, dunia terasa hangat. Tapi, mengapa kau tega melakukan ini padaku ? Jung Jin Woon ! Kau adalah orang paling jahat yang pernah kukenal !

“Kau masih mengingat tempat ini ?” Tanya seseorang dari belakangku. Refleks aku langsung berbalik 180 derajat menghadapnya. Sial ! Itu adalah si brengsek ! Aku langsung melangkahkan kakiku pergi dari sini. Tapi sialnya, Jinwoon menahan tanganku.

“Lepaskan aku !” Bentakku padanya.

“Apa kau ingat aku ?” Tanyanya sambil mempererat genggamannya.

“Lepaskan aku jika tidak aku akan teriak !” Ancamku dan dia masih saja tak mempedulikan ancamanku.

“Ternyata, rencanaku berjalan dengan lancar ya. Kau bisa ke Amerika” Katanya. Mwo ? Rencana ? Rencana apa ? Aku erhenti memberontak dan duduk dikursi.

“Maksudmu ?” Tanyaku bingung.

“Kau benar-benar hebat saau audisi ketika memerankan orang yang sedang sakit hati” Lanjutnya.

“Aku gak ngerti apa yang kamu bicarakan” Jawabku tak acuh padanya.

“Aku yang merencanakan semua ini. Agar kau bisa merasakan bagaiman rasanya sakit hati. Jadi kau bisa memerankan peran itu dengan baik” Katanya lagi. Astaga ! Jadi selama ini dia sengaja membuatku sakit hati agar aku bisa memerankan peran sakit hati dengan baik.

“Jiyeon-a … Nan” Katanya dengan terpotong dan langsung memelukku. “Jeongmal saranghaeyo” Lanjutnya.

“Nado, oppa” Jawabku sambil membalas pelukannya. Lalu aku berbisik ditelinganya. 

“Oppaaa … Nan jeongmal saranghaeyo”


=====END=====

Tidak ada komentar:

Posting Komentar