Title : "Love Letter"
Genre : Romance and Friendship
Length : Oneshoot
Cast : - Yoon Bo Mi (Bomi)
- Xi Lu Han (Luhan)
- Li Jiaheng (Kris)
='Author POV’=
Seperti
biasa, tiga sahabat ini berjalan menuju sekolah dengan Luhan di kanan, Kris
dikiri, dan Bomi. Mereka tertawa, berbagi lelucon sampai didepan gerbang
sekolah.
“Oppa, aku harus pergi dulu. Sampai bertemu
istirahat makan siang, ok ?” Kata Bomi sambil berjalan didepan Luhan dan Kris
dengan nada ceria.
“Araseo !” Jawab Luhan dan Kris serempak sambil
tertawa kelucuan mengingat nada Bomi yang lucu tadi. Mereka pun berjalan menuju
kelasnya.
Waktu
berlalu begitu cepat dan sekarang sudah istirahat makan siang. Bomi berjalan
menuju lokernya. Dia merasa bersemangat untuk membuka lokernya untuk menemukan
surat lain yang selalu dikirim oleh sipengagum rahasianya sehari-hari. Saat
membuka lokernya, dia menemukan selembar kertas berwarna pink. Bomi mengambil
surat selembar kertas tersebut dengan senyum yang dibibir.
"Kau selalu
membuat hidup saya jadi cerah dengan hanya satu senyuman darimu"
Seperti biasa. Hanya ada satu kalimat. Tapi tetap saja membuat hati Bomi
berbunga-bunga. Dengan
menyeringai diwajahnya dia menutup lokernya dan berjalan ke kantin. Dimana
dua sahabatnya menunggu kedatangannya. Dia menyembunyikan kertas tersebut dikantong bajunya saat ia berjalan ke sahabatnya yangsedang duduk di dekat jendela. Bomi tidak pernah membicarakan
tentang selembar kertas tersebut. Tidak pernah. Karena ia tahu, jika ia
memberitahu mereka, mereka pasti akan selalu menggoda Bomi tentang seorang
namja yang menyukainya.
“Annyeong oppa” Sapa Bomi ceria sambil duduk
disebelah Luhan.
“Ini” Kata Luhan sambil memberikan makanan kesukaan
Bomi.
“Gomawo. Oppa tau aja apa yang kusuka” Jawab Bomi
sambil menyenggol bahu Luhan.
Mereka
makan siang bersama. Kadang mereka tertawa bersama mendengar salah satu lelucon
dari salah satu dari mereka. Setelah bell berbunyi, mereka pergi dari kantin
dan pergi kekelas mereka masing-masing.
Sekarang sudah
waktunya pulang kerumah. Kris dan Luhan sedang menunggu Bomi di pintu masuk
sekolah. Ketika mereka
melihat sosok Bomi berjalan ke arah mereka, senyuman manis muncul di wajahnya.
"Siap untuk pulang ?" Tanya Luhan dan Bomi mengangguk kepalanya. Lalu Mereka bertiga berjalan pulang bersama-sama seperti biasa.
"Siap untuk pulang ?" Tanya Luhan dan Bomi mengangguk kepalanya. Lalu Mereka bertiga berjalan pulang bersama-sama seperti biasa.
[Next Day]
=’Bomi POV’=
Seperti biasa, aku sudah berada didepan loker. Aku perlahan-lahan membuka lokerku dan menemukan surat lain dari pengagum rahasiaku.
“NAN SARANGHAE. JEONGMAL SARANGHAEYO. I LOVE YOU WITH ALL MY HEART”
Seperti biasa, aku sudah berada didepan loker. Aku perlahan-lahan membuka lokerku dan menemukan surat lain dari pengagum rahasiaku.
“NAN SARANGHAE. JEONGMAL SARANGHAEYO. I LOVE YOU WITH ALL MY HEART”
Kata-kata di surat itu…
Lagi dan lagi membuat hatiku serasa ingin meledak ! Aku sebenarnya juga jatuh cinta
dengan orang yang selalu mengirimiku surat. Untuk setiap kata-kata yang ada di suratnya. Aku merasa seperti aku sangat penting
bagi orang tersebut. Sehingga meskipun aku tidak pernah bertemu atau melihat pengagum
rahasia, sedikit demi
sedikit aku perlahan-lahan
jatuh cinta dengan dia.
=’Author POV’=
Bomi tidak tahu pengagum rahasianya mengawasinya dari
jauh dengan senyum dibibirnya. Senang melihat senyumnya karena suratnya. Puas melihat hasihnya ia
berjalan ke kantin untuk makan siang.
Segera Bomi pergi ke kantin dan melihat dua sahabatnya yang sedang berbicara satu sama
lain tentang sesuatu. Dia duduk berlawanan dengan mereka dan mendengarkan cerita mereka.
"Apa dengan senyummu Bomi-a ?” Tanya Kris ketika melihat senyuman manis tertampang diwajah Bomi.
"Apa dengan senyummu Bomi-a ?” Tanya Kris ketika melihat senyuman manis tertampang diwajah Bomi.
“Aniyo !" Jawab Bomi kaget karena sedari tadi hanya
melamun.
"OUZ ! Aku yakin aada sesuatu yang
kau sembunyikan dari kami" Kata Luhan mulai menggoda Bomi.
"Aish! Benar-benar tidak bisa
mempercayaiku ya ?"Jawabnya lagi dan lalu mengabaikan Kris dan
Luhan. Bomi lalu memakan makanannya dan pamit pada Luhan dan Kris
"Aku harus pergi dulu oppa.
Annyeong" Pamin Bomi dan lalu meninggalkan mereka
berdua.
"Ada apa dengannya ?" Tanya Kris ke Luhan yang duduk di
sampingnya.
"Molla" Jawab Luhan
sambil melihat kemana Bomi berjalan keluar.
'Mungkin karena surat yang kuberikan berikan kepadanya' Batin seorang namja.
[Next Day]
Bomi lagi adalah didepan lokernya. Melihat langsung ke lokernya dengan tak sabaran. Ketika dia membuka dia melihat hanya ada buku miliknya. Dia frustrasi dan mengangkat buku-bukunya mencari surat itu tapi masih tidak mendapatkan apapun.Dia menghela napas dan menutup pintu lokernya dengan wajah sedih.
'Mungkin karena surat yang kuberikan berikan kepadanya' Batin seorang namja.
[Next Day]
Bomi lagi adalah didepan lokernya. Melihat langsung ke lokernya dengan tak sabaran. Ketika dia membuka dia melihat hanya ada buku miliknya. Dia frustrasi dan mengangkat buku-bukunya mencari surat itu tapi masih tidak mendapatkan apapun.Dia menghela napas dan menutup pintu lokernya dengan wajah sedih.
"Kenapa dia tidak memberikan surat hari ini ?" Kata Bomi bertanya pada dirinya sendiri dan perlahan-lahan berjalan ke kantin dengan wajah yang sedih.
"Ya ! Bomi-a ! Ada apa dengan wajahmu ?" Tanya Luhan dengan keprihatinan ketika ia melihat Bomi tiba di kantin.
"Aniyo !" Jawab Bomi. Dia menghela nafas dan duduk di kursi yang biasa. Kedua anak laki-laki
saling memandang lalu menatap Bomi lagi.
‘Aigoo ! Aku lupa untuk menempatkan suratku di lokernya’ Salah satu dari mereka berpikir seperti itu.
‘Aigoo ! Aku lupa untuk menempatkan suratku di lokernya’ Salah satu dari mereka berpikir seperti itu.
Kemudian pada hari itu juga,
salah sahabat Bomi berjalan ke lokernya
sambil melihat kiri dan kanan. Seperti mencari sesuatu.
"Apa yang kau lakukan Kris oppa!"Bomi memergoki Kris yang sedang berada didepan lokernya. Kris pun hanya menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Apa yang kau lakukan Kris oppa!"Bomi memergoki Kris yang sedang berada didepan lokernya. Kris pun hanya menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
‘Apakah dia orang yang
selalu menempatkan surat di lokerku ? ' Bomi bertanya pada dirinya sendiri saat ia memergoki Kris dari kepala sampai kaki.
"Aku .. aku ..." Kata Kris gagapan tidak tahu harus berkata apa, karena ia juga tidak tahu mengapa dia ada di sana pada tempat pertama.
Kemudian sesuatu memotong perhatian Bomi dari Kris.
"Aku .. aku ..." Kata Kris gagapan tidak tahu harus berkata apa, karena ia juga tidak tahu mengapa dia ada di sana pada tempat pertama.
Kemudian sesuatu memotong perhatian Bomi dari Kris.
"Apa yang ada di tanganmu oppa ?" Tanya Bomi. Kris menatap tangan kirinya yang memegang selembar kertas.
"Oh ini … Aku …" Kata Kris terpotong karena Bomi langsung
merebut selembar kertas itu dari tangannya.
'Bomi-a,
Saranghae ! Mian karena aku memeberitahumu lewat lokermu. Mian karena hari ini
aku terlambat memberi surat. Bomi-a, NAN JEONGMAL SARANGHAEYO'
Bomi membaca surat
'Itu dia, kertas, ditulis tangannnya dengan rasa cinta. Dialah si
pengangum rahasiaku’ Bomi berpikir dan lalu memandang Kris. Air mata mulai membangun di matanya. Ia tidak ingin mengatakan
dia sangat senang bahwa akhirnya ia melihat pria impiannya.
Bomi lalu
langsung memeluk Kris. Kris awalnya terkejut, tapi akhirnya membalas pelukan
Bomi dengan memeluk punggung Bomi
"Itu oppa !" Kata Bomi.
"Naega ?" Tanya Kris tercengang lalu dia ingat surat yang ia lihat sebelumnya
di lantai dengan nama Bomi di atasnya. Karena dia
mencintai Bomi dengan segenap hatinya
ia memutuskan untuk berpura-pura menjadi pengagum rahasia Bomi.
"Oh , Ne. Itu aku" kata Kris dengan senyum di wajahnya.
Mereka berdua tidak tahu bahwa sebenarnya pengagum rahasia Bomi sedang mengawasi mereka, air mata meluncur dari matanya
saat ia melihat mereka berdua sangat bahagia. Dia perlahan-lahan meninggalkan
tempat dengan tenang dan pulang sendirian.
Kris dan Bomi pulang bersama-sama sambil memegang tangan satu sama lain, dan melupakan Luhan sendirian. Ketika
keduanya tiba di rumah Bomi.
"Aku masuk dulu ya oppa. Dan mulai besok, oppa tidak perlu lagi mengirimiku surat" Kata Bomi canggung mengatakan.
"Aku masuk dulu ya oppa. Dan mulai besok, oppa tidak perlu lagi mengirimiku surat" Kata Bomi canggung mengatakan.
"Ne, araseo. Kamu cepat masuk" kata Kris dan
mencium kening Bomi sebelum berjalan
pulang.
‘Mengapa aku tidak begitu senang ketika Kris oppa menciumku
? ' Pikir Bomi ‘Aniyo. Mungkin aku hanya lelah' Pikirnya lagi.
Pada hari berikutnya Bomi
dan Kris berjalan ke sekolah bersama-sama tanpa Luhan dengan mereka.
"Sampai nanti oppa !" Kata Bomi dan lalu berlari menuju kelasnya.
"Ok" Jawab Kris dan berjalan juga.
Ketika ia tiba untuk kelas ia melihat Luhan sudah ada dan hanya
duduk saja. Kris lalu berjalan ke arahnya dan duduk di sampingnya.
"Hei bro ! Coba tebak ?" Kata Kris
semangat. Luhan pun menatapnya.
"Mwo ?" Tanya Luhan bingung.
"Woa ! Neo.. Neo gwenchana ? Museun
il-iya ?"
Tanya Kris.
"Mwo? Aisshhh … Lupakan tentang aku.
Malhaebwa !" Tanya Luhan lagi. Dia tidak ingin Kris tahu bahwa dia sakit
dalam dirinya. Tapi dia harus berpura-pura untuk kebahagiaan cintanya dan sahabatnya.
"Aku, dan Bomi sekarang berpacaran" Kata Kris dalam bahagia dan mengukir senyuman diwajahnya.
"Oh, geulae. Chukkae" Kata Luhan mencoba untuk
menyembunyikan kesedihannya tapi untuk banyak baginya untuk menanganinya.
"Yeah !" Kata Kris yang tidak menyadari bahwa Luhan sangat terluka.
Satu bulan telah berlalu dan Luhan sekarang sangat jarang bertemu Bomi dan
Kris. Dia takut menghancurkan kebahagiaan mereka. Sementara Bomi sedikit demi sedikit
kehilangan rasa cintanya ke Kris. Oleh karena itu, Bomi memutuskan
mengakhiri hubungan mereka.
Bomi
mengunjungi rumah Luhan untuk memastikan bahwa Luhan baik-baik saja. Karena,
beberapa minggu terakhir ini, dia sangat jarang melihat Luhan.
"Annyeong ahjumma. Luhan ada ?" Tanya Bomi kepada eommanya Luhan yang baru saja membukakan pintu.
"Annyeong ahjumma. Luhan ada ?" Tanya Bomi kepada eommanya Luhan yang baru saja membukakan pintu.
"Ahh… Bomi-ssi ! Sudah lama tidak
bertemu. Luhan ada dikamarnya” Jawab eomma Luhan.
Bomi mengetuk pintu kamar Luhan sebanyak tiga kali tapi tidak ada
jawaban sehingga ia memutuskan untuk masuk ke dalam. Kamarnya kosong. Tidak ada Luhan didalam.
Jadi Bomi memutuskan berkeliling kamar Luhan. Bomi lalu
melihat meja belajar Luhan, dan mendapati Luhan sedang tertidur disana.
Dilihatnya ada tumpukan foto-fotonya dan kertas-kertas berwarna pink yang
bercoretkan sebuah kata-kata manis yang sering dibaca Bomi sedang berserakkan
didekatnya. Ketika Bomi ingin mengambil salah satu kertas pink tersebut, sebuah
tangan mencegahnya. Dan Luhan pun langsung membuka matanya.
“Apa yang kau lakukan disini ?”
Tanya Luhan dingin.
“I... I… Itu kau?” Tanya Bomi
sambil memandangi kertas-kertas tersebut. Luhan pun ikut memandangi kertas
tersebut.
“Ne. Itu aku”
“Dan kau fikir dengan mengetahui
ini, itu tidak akan merusak segalanya ?” Setetes air mata Bomi pun turun
kewajahnya.
“Dengarkan aku Yoon Bomi ! Aku
tak mau menyakiti perasaanmu dan Kris !”
“Tidak ingin menyakiti perasaanku
? OPPA ! YOU ALREADY TO HURTING ME ! Selama ini, kupikir Kris oppa lah yang
kucinta. Tapi aku salah, ternyata itu adalah kamu.”
Luhan
menatap dalam Bomi, begitu juga Bomi. Luhan lalu maju mendekat pada Bomi dan
memeluknya erat.
“Mianhae … Mianhae Bomi-a …” Kata
Luhan lirih.
“Oppa, satu-satunya orang yang
kucintai adalah oppa. Luhan Oppa ! Bukan Kris oppa”
“Shhhss ! Al-ayo. Mian karena
selama ini aku telah menyembunyikan perasaanku.” “Bomi-a nan saranghae.
Jeongmal saranghaeyo. With all my heart”
“Nado oppa. Nan jengmal
saranghaeyo, Luhan oppa”
=====END=====
Comment please ...
Don't Be A Silent Readers ^.^
Thankyou For Read My Stories ^.^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar